Choose language


Choose region

“Aku juga, Reza,” jawabnya pelan. “Mungkin sejak kamu pertama kali bertanya soal buku puisiku.”

Sari tersenyum kecil. “Iya. Ini buku favoritku. Kamu suka puisi?”

Sampai di depan rumah Sari, Reza menatap matanya.

Di meja sebelah, duduk seorang perempuan bernama Sari. Dia baru pindah dari Jakarta dan sedang membaca buku puisi lama. Sesekali, dia melirik ke arah Reza yang tampak serius dengan pekerjaannya.

Reza menggeleng pelan, lalu tertawa. “Jujur, aku lebih suka gambar. Tapi sejak melihat kamu membaca dengan ekspresi serius itu… aku jadi penasaran.”

Hari berganti minggu. Tanpa sengaja, mereka sering bertemu di kafe yang sama. Reza yang biasanya pendiam akhirnya memberanikan diri menyapa.

Suatu malam, hujan turun deras. Sari berlindung di teras kafe sambil memegang payung kecilnya yang rusak. Reza menghampiri.

“Sari… aku tahu ini terdengar aneh. Tapi… aku mulai suka sama kamu. Aap mujhe achche lagne lage.”

Mereka berdua tersenyum. Hujan masih turun, tapi di hati mereka, semuanya terasa cerah. Kadang, rasa suka tumbuh bukan dari hal besar, tapi dari kebersamaan sederhana—dari tawa kecil, dari payung yang dibagi, dari pertanyaan ringan yang diucapkan dengan tulus.

Mereka pun mulai sering berbincang. Reza suka cara Sari menjelaskan makna puisi dengan lembut. Sari suka bagaimana Reza mendengarkan dengan penuh perhatian, meskipun dia bukan penggemar puisi.

“Kamu suka buku puisi juga?” tanya Reza suatu sore.

Mujhe Achche Lagne Lage Bahasa Indonesia | Aap

“Aku juga, Reza,” jawabnya pelan. “Mungkin sejak kamu pertama kali bertanya soal buku puisiku.”

Sari tersenyum kecil. “Iya. Ini buku favoritku. Kamu suka puisi?”

Sampai di depan rumah Sari, Reza menatap matanya. aap mujhe achche lagne lage bahasa indonesia

Di meja sebelah, duduk seorang perempuan bernama Sari. Dia baru pindah dari Jakarta dan sedang membaca buku puisi lama. Sesekali, dia melirik ke arah Reza yang tampak serius dengan pekerjaannya.

Reza menggeleng pelan, lalu tertawa. “Jujur, aku lebih suka gambar. Tapi sejak melihat kamu membaca dengan ekspresi serius itu… aku jadi penasaran.” “Aku juga, Reza,” jawabnya pelan

Hari berganti minggu. Tanpa sengaja, mereka sering bertemu di kafe yang sama. Reza yang biasanya pendiam akhirnya memberanikan diri menyapa.

Suatu malam, hujan turun deras. Sari berlindung di teras kafe sambil memegang payung kecilnya yang rusak. Reza menghampiri. Ini buku favoritku

“Sari… aku tahu ini terdengar aneh. Tapi… aku mulai suka sama kamu. Aap mujhe achche lagne lage.”

Mereka berdua tersenyum. Hujan masih turun, tapi di hati mereka, semuanya terasa cerah. Kadang, rasa suka tumbuh bukan dari hal besar, tapi dari kebersamaan sederhana—dari tawa kecil, dari payung yang dibagi, dari pertanyaan ringan yang diucapkan dengan tulus.

Mereka pun mulai sering berbincang. Reza suka cara Sari menjelaskan makna puisi dengan lembut. Sari suka bagaimana Reza mendengarkan dengan penuh perhatian, meskipun dia bukan penggemar puisi.

“Kamu suka buku puisi juga?” tanya Reza suatu sore.