(Mulai tegas) Dengar, wanita tua. Aku tidak pernah punya ibu miskin. Sekarang pergi dari kapalku sebelum aku suruh anak buahku menendangmu.
(Membela diri) Itu dulu, Siti. Sekarang aku sudah berbeda. Tapi...
(Menangis histeris) Ibu! Ibu! Maafkan Malin! Malin salah! TOLONG... IBU...
(Agak gugup) Ini kampung halamanku, Siti. Aku dulu lahir di sini. naskah drama malin kundang 4 orang
(Berdoa dengan suara parau) Ya Allah... jika dia benar anakku, maafkan dia. Tapi jika dia tega pada ibunya... tunjukkan keadilan-Mu.
(Air mata mengalir) Malin... kau ingkar janji. Kau tega pada ibumu sendiri demi wanita sombong itu?
Malin tidak takut, Bu. Malin hanya takut melihat Ibu menderita. Doakan Malin, ya Bu. (Mulai tegas) Dengar, wanita tua
Babak 2: Kesuksesan dan Kesombongan (Suasana: Kapal mewah bersandar di pelabuhan. Malin sekarang berpakaian rapi dan mewah. Siti, istrinya, berdiri di sampingnya dengan angkuh.)
Malin Kundang berubah menjadi batu. Siti selamat tetapi hidup dalam kesengsaraan. Mande Rubayah pulang ke gubuknya, patah hati hingga akhir hayatnya.
(Berteriak) Kapten! Bawa wanita tua ini turun dari kapal! (Membela diri) Itu dulu, Siti
(Kaget) Apa? Malin, ini Ibu, Mande Rubayah. Lihat, ini tahi lalat di tanganmu! Kau lahir dari perut Ibu!
Di sebuah desa nelayan, hiduplah seorang pemuda bernama Malin Kundang bersama ibunya, Mande Rubayah. Kemiskinan membuat Malin bertekad untuk merantau ke kota.