top of page

Roe-091 Hanya Aku Yang Tahu Rahasia Ibu Temanku... -

Aku menurunkan napas panjang, mengingat nasihat Ibu Maya. Dengan hati yang tenang, aku menutup mata sejenak, mengalirkan niat untuk membantu, bukan untuk mencari keuntungan. Saat aku membuka mata, sebuah sinar lembut menyusup melalui celah batu, menyoroti sebuah kristal merah kecil di tengah ruangan— yang legendaris. Bab 6 – Kembali dengan Pengetahuan Aku mengangkat kristal itu dengan hati-hati, menaruhnya dalam kotak kayu yang sama. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, seakan beban dunia telah terangkat. Saat tiba di desa, Ibu Maya menunggu dengan cangkir kopi hangat di tangannya.

Ia menuntunku masuk. Di ruang tamu, tirai masih tertutup, dan gembok di kotak kayu bersinar di bawah cahaya lampu minyak. "Ada sesuatu yang harus aku selesaikan sebelum aku pergi ke kota besok. Aku tidak bisa mempercayakan ini kepada orang lain," katanya sambil menatapku dengan mata yang penuh kehangatan.

Aku mengangguk. Sebuah rasa tanggung jawab menggelora dalam diriku. Aku berjanji pada diri sendiri akan melindungi warisan itu, sekaligus menjaga rahasia ini tetap aman. Keesokan paginya, hujan sudah mereda. Aku menyiapkan perlengkapan penjelajahan: peta, kompas, dan buku catatan Raden Oka. Dengan izin Ibu Maya, aku berangkat menuju pegunungan barat laut, mengikut jejak yang ditandai pada peta.

Perjalanan itu tidak mudah. Jalur licin, semak belukar, dan suara binatang liar menemani setiap langkahku. Namun, setiap kali rasa lelah menyerang, aku teringat pada senyuman Ibu Maya dan kepercayaan yang dia berikan. ROE-091 Hanya Aku Yang Tahu Rahasia Ibu Temanku...

Setelah tiga hari menapaki lereng, aku menemukan sebuah mulut gua tersembunyi di balik tirai air terjun kecil. Di dalamnya, terdapat simbol-simbol yang persis seperti yang ada di buku . Aku menyalakan senter, mengamati dinding batu yang dipenuhi ukiran.

"Kamu harus hati-hati," kata Ibu Maya, "Bukan hanya pengetahuan yang dibutuhkan, tapi hati yang bersih. Banyak orang yang telah mencoba, tapi mereka terjebak dalam keserakahan."

Ibu Maya menatapku sambil menghela napas panjang. "Aku dulu adalah asisten Raden Oka. Kami menemukan ruang itu, namun karena perang dan kekacauan, semua catatan kami hilang. Aku menyimpan buku ini sebagai satu-satunya bukti." Aku menurunkan napas panjang, mengingat nasihat Ibu Maya

Aku menjawab, "Aku belajar bahwa setiap rahasia memiliki tujuan. Ada yang menunggu waktu yang tepat untuk terungkap, dan ada yang menunggu hati yang bersih untuk menjaganya."

Buku itu berisi catatan seorang arkeolog bernama Raden Oka, yang pada tahun 1941 menemukan sebuah situs misterius di pegunungan barat laut Pulau Jawa. Situs itu disebut , sebuah ruangan tersembunyi yang konon menyimpan sebuah artefak kuno bernama “Lilin Merah” —sebuah batu kristal yang diyakini mampu menyerap energi alam dan memproyeksikan cahaya yang dapat menyembuhkan luka jiwa.

Ibu Maya menggeleng pelan, lalu mengeluarkan sebuah kunci kecil dari dalam sakunya. "Ini bukan barang biasa, Raka. Ini adalah… sebuah rahasia yang sudah lama aku jaga. Aku ingin kau menjadi satu-satunya orang yang tahu." Dengan perlahan, aku membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah buku kulit tipis berwarna cokelat, dengan tulisan berwarna emas di sampul: “ROE‑091” . Di antara lembar-lembarnya, terdapat foto-foto hitam‑putih, peta kuno, dan catatan tangan yang rapat. Bab 6 – Kembali dengan Pengetahuan Aku mengangkat

Aku menyerahkan kristal itu kepada Ibu Maya, namun ia menolak. "Aku tidak ingin kamu menyimpannya. Aku akan mengirimkannya ke museum nasional, tetapi kamu—kamu yang pertama kali membuka pintu rahasia ini. Ceritakan kepadaku apa yang kamu pelajari."

"Kau berhasil, Raka," katanya, suaranya bergetar antara kebanggaan dan kelegaan. "Kini warisan ini akan terjaga, bukan hanya oleh buku, tetapi oleh generasi yang menghargainya."

Stay Connected

Thanks for submitting!

bottom of page